Download http://bigtheme.net/joomla Free Templates Joomla! 3
Home / Lain-lain / KKP Gandeng Australia, Genjot Produksi Rumput Laut Nasional

KKP Gandeng Australia, Genjot Produksi Rumput Laut Nasional

Pemerintah Indonesia bekerja sama dengan Australia untuk meningkatkan produktivitas rumput laut dalam negeri dan menciptakan sistem pasar yang bermanfaat bagi seluruh industri rumput laut yang terlibat.

Upaya ini terwujud melalui kolaborasi antara Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), bersama Bappenas serta Australia-Indonesia Partnership for Promoting Rural Incomes through Support for Markets in Agriculture (PRISMA) – sebuah program kerjasama pembangunan di bidang pengembangan sistem pasar dengan dukungan teknis dari Yayasan Kalimajari, sebuah organisasi lokal yang berfokus pada pemberdayaan masyarakat.

Kolaborasi ini diformalisasikan melalui penandatanganan komitmen kerjasama program “Improving Seaweed Seedling Production and Provision” antara DJPB KKP, PRISMA, dan Yayasan Kalimajari yang dilakukan pada tanggal 21 Februari 2020 di Kantor KKP, Jakarta.

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto menyatakan bahwa KKP telah menyiapkan strategi percepatan peningkatan produksi rumput laut menginduk kepada peta jalan industrialisasi rumput laut nasional hingga 5 (lima) tahun mendatang. Dalam peta jalan tersebut salah satu misi KKP ialah menyediakan bibit rumput laut bermutu dari hasil kultur jaringan dan kebun bibit non kultur jaringan.

“Dalam upaya untuk mendukung misi tersebut, pada tahun 2020 KKP telah menyiapkan bantuan berupa bibit rumput laut sebanyak 200 ton, dan bantuan kebun bibit rumput laut sebanyak 80 paket yang disalurkan melalui 5 Unit Pelaksana Teknis lingkup DJPB di Lampung, Situbondo, Ambon, Takalar dan Lombok,” kata Slamet.

Selain itu, dalam upaya mendukung peningkatan nilai ekonomi yang dihasilkan dari budidaya rumput laut, KKP akan memprioritaskan kemudahan investasi hilirisasi rumput laut guna menggenjot nilai ekonomi yang lebih besar. Pengembangan klaster-klaster rumput laut di sentral produksi juga dilakukan untuk menghadirkan konektivitas yang efisien dari hulu hingga hilir (industri pengolahan) yang akan langsung berdampak pada peningkatan nilai tambah.

Slamet melanjutkan, peningkatan nilai tambah devisa dengan menggenjot ekspor dalam bentuk setengah jadi seperti Semi Refine Carrageenan (SRC) dan Refine Carrageenan (RC) sangat mungkin dilakukan dengan KKP melakukan pembinaan teknis pascapanen dan pengolahan untuk pembudidaya, pengolah, dan pemasar rumput laut di sentra utama kawasan pengembangan budidaya.

“Dengan melakukan langkah-langkah strategis tersebut diharapkan industri rumput laut Indonesia mampu menjadi sektor unggulan yang menghasilkan pertumbuhan ekonomi secara berkelanjutan, menyediakan lapangan kerja dalam jumlah signifikan, dengan tujuan utama untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat,” tutup Slamet.

Senada dengan Slamet, Minister Councellor of Department of Foreign Affairs and Trade, Government of Australia, Robert Brink menyatakan kerjasama bidang kelautan antara Australia dan Indonesia merupakan kerjasama strategis untuk mencapai manfaat ekonomi bagi masyarakat.
“Kemitraan peningkatan produksi dan penyediaan benih rumput laut ini adalah contoh yang baik terkait banyaknya pemangku kepentingan yang bersatu untuk menciptakan sistem pasar yang lebih baik. Kami berharap PRISMA dapat membantu KKP untuk mempromosikan lingkungan bisnis dan Iklim investasi yang lebih baik di masyarakat” tutup Robert.

Sementara itu CEO PRISMA, Goetz Ebbecke menekankan pentingnya kolaborasi pemerintah dengan sektor swasta untuk meningkatkan kesejahteraan pembudidaya rumput laut, khususnya di daerah terpencil. “PRISMA siap untuk bekerja bersama dengan KKP dan swasta untuk menciptakan iklim budidaya rumput laut yang lebih efisien serta memiliki pasar yang baik,” imbuh Ebbecke.

Direktur Yayasan Kalimajari, I Gusti Agung Ayu Widiastuti menjelaskan bahwa program ini merupakan fase kedua yang akan berlangsung dimulai dari tahun ini hingga tahun 2023. Setelah pada fase pertama lebih banyak dikuatkan pada aspek hilir, maka pada fase kedua ini lebih dititikberatkan pada fase hulu, terutama bagaimana bibit dapat tersedia dengan baik, secara kualitas maupun kuantitas.

“Untuk menjadikan rumput laut sebagai masa depan Indonesia, salah satu aspek yang harus dibenahi adalah ketersediaan bibit dari sisi kualitas dan produksi serta akses untuk mendapatkan bibit tersebut,” kata Ayu.

 

sumber: https://news.kkp.go.id/

About jion

Check Also

Anggaran pengembangan perikanan budi daya 2020 tembus Rp1 triliun

Raker Komisi IV DPR RI sudah menyetujui anggaran untuk budi daya ditambah Rp300 miliar… Dirjen …