Download http://bigtheme.net/joomla Free Templates Joomla! 3
Home / Lain-lain / Maggot Sebagai Pakan Alternatif Ikan Berprotein Tinggi

Maggot Sebagai Pakan Alternatif Ikan Berprotein Tinggi

Dibandingkan pakan ikan buatan yang hanya mengandung protein sebesar 30—35%, kandungan protein pada maggot jauh lebih tinggi. Inilah yang menjadi pusat perhatian para pembudidaya untuk menjadikan maggot sebagai pakan alternatif berprotein tingi untuk ikan.

Maggot adalah larva serangga Black Soldier Fly (Hermentia illucens, Stratiomydae, Diptera), keberadaanya bisa ditemui hampir diseluruh dunia dengan ukuran larva 2 cm. Maggot BSF mempunyai banyak kelebihan diantaranya :

  1. Bisa mereduksi sampah organik (dewetering),
  2. Bisa hidup dalam toleransi pH yang cukup luas,
  3. Tidak membawa atau agen penyakit,
  4. Memiliki kandungan protein yang cukup tinggi (40-50%),
  5. Masa hidup cukup lama (sekita lebih kurang 4 minggu) dan untuk bisa mendapatkanya tidak memerlukan teknologi tinggi.

 

Black Soldier Fly adalah serangga yang hidup di pepohonan yang berbunga. Sari bunga (madu) merupakan makanan utamanya. Siklus hidupnya selalu melakukan metamorfosa seperti kupu-kupu. Black soldier yang sudah dewasa akan kawin dan selanjutnya akan meletakkan telurnya pada media yang memungkinan sebagai makanan bagi larvanya. Dalam waktu 2-4 hari telur akan menetas menjadi maggot kecil, selanjutnya akan bertambah besar sampai 2 cm pada umur 4 minggu.

Sampai umur 2 minggu maggot masih berwarna putih dan selanjutnya warna semakin berubah menjadi kekuningan sampai hitam dan menjadi pupa pada umur sekitar 4 minggu. Setelah 4 minggu pupa akan menetas menjadi serangga dewasa.

Maggot berpeluang cukup besar untuk dijadikan sebagai pakan alternatif berprotein tinggi bagi ikan, misalnya lele. Menurut pengalaman para pembudidaya, maggot sabagai pakan alternatif bagi lele memperlihatkan dampak positif dan memuaskan. Pasalnya, lele yang diberi pakan alternatif maggot mampu tumbuh dengan cepat dan menekan FCR (Feed Convertion Ratio) hingga 0,26%. Artinya, hasil yang dicapai lebih maksimal dan biaya lebih rendah.

Hasil penelitian Hartoyo dan Purnama Sukardi menunjukkan bahwa maggot bisa dikembangbiakkan pada media tertentu, salah satunya limbah tahu. Dengan menambahkan ikan asin, ampas tahu cukup efektif menjadi media pembiakan maggot. Ikan asin berfungsi sebagai penarik lalat agar bertelur di media tersebut.

Dalam prosesnya, penambahan ikan asin tidak boleh melebihi separuh atau 50% dari berat ampas tahu. Pembiakan paling efektif terjadi jika komposisi ikan asin 20% dari berat ampas tahu. Jika ampas tahu tidak ditambah dengan ikan asin atau jumlah ikan asin melebihi 50% jumlah ampas tahu akan percuma karena tidak dapat menghasilkan maggot. Artinya, hal tersebut mengindikasikan bahwa lalat membutuhkan perbandingan ampas tahu dan ikan asin atau rucah dengan komposisi perbandingan yang tepat.

Ikan asin atau ikan rucah berfungsi sebagai makanan maggot. Keberadaannya juga diperlukan sebagai daya tarik lalat untuk bertelur pada media tersebut. Walaupun demikian, perbandingan ampas tahu dan ikan asin tidak berpengaruh terhadap kandungan protein pada maggot. Mengapa ampas tahu? Salah satu alasannya, selain untuk mengurangi pencemaran lingkungan, khususnya perairan, tepung ampas tahu masih mengandung gizi, yaitu protein 23,55%; lemak 5,54%; karbohidrat 26,92%; abu 17,03%; serat kasar 16,53%; dan air 10,43%.

Pemilihan ampas tahu sebagai media diharapkan terjadi transfer energi dari ampas tahu pada maggot yang dihasilkan. Selain itu, sebagai limbah, ampas tahu mudah didapatkan dengan harga yang relatif terjangkau. Dengan demikian, teknologi pembiakan maggot merupakan teknologi yang murah dan mudah diaplikasikan.

 

sumber: dari berbagai sumber

About jion

Check Also

Anggaran pengembangan perikanan budi daya 2020 tembus Rp1 triliun

Raker Komisi IV DPR RI sudah menyetujui anggaran untuk budi daya ditambah Rp300 miliar… Dirjen …