Download http://bigtheme.net/joomla Free Templates Joomla! 3
Home / Lain-lain / ICAI 2019

ICAI 2019

“Indonesia memiliki potensi produksi perikanan budidaya atau akuakultur terbesar di dunia dengan potensi sekitar 100 juta ton per-tahun diatas China. Namun dari sisi produksi kita saat ini berada di posisi kedua,” Demikian disampaikan Ketua Umum Masyarakat Akuakultur Indonesia (MAI) Prof. Rokhmin Dahuri, saat menyampaikan keynote speech “A Productive, Clean, Green, Blue and Inclusive Industriization Toward Sustainable Aquaculture Development” pada acara Konferensi Internasional Akuakultur atau International Conference of Aquaculture Indonesia (ICAI) 2019.

Acara ICAI sukses diselenggarakan di Surabaya dengan jumlah peserta 300 peserta dari berbagai kalangan dan negara (16 negara)  yang digelar  di Hotel Mercure, Surabaya, Jumat-Sabtu (4/10-5/10).

Pembicara utama (keynote speaker) adalah Ketua Umum  Masyarakat Akuakultur Indonesia (MAI), Prof Dr Ir Rokhmin Dahuri MSc.   Pembicara lain adalah  Dr  Coco Kokahrin (KKP), Dr Charles Saliba (Malta), Dr  Jean Yves Mevel (Perancis), Dr  Nyan Taw (Vietnam), Dr  Rohana Subasinghe (FAO), Dr Wei Che Wen (Myanmar), dan Dr  Romi Novriadi (KKP).

Forum ICAI 2019 nantinya akan memberikan rekomendasi bagi pemerintah dalam upaya membangun sektor akuakultur agar berkontribusi dalam pertumbuhan ekonomi nasional. “Jika rekomendasi atau jurus-jurus pengembangan akuakultur itu dapat diterapkan oleh pemerintah, kita optimistis sektor tersebut mampu menyumbangkan minimal 2 persen pertumbuhan ekonomi,” katanya.

“Jadi kalau saat ini pemerintah sulit keluar dari pertumbuhan ekonomi yang hanya mentok di 5 persen, maka dengan optimalisasi pembangunan sektor akuakultur menuju pertumbuhan 7 persen insyaAllah akan mudah tercapai,” tambah ketua DPP PDIP Bidang Kelautan dan Perikanan itu.

Salah satu isu penting yang juga menjadi pembahasan dalam ICAI 2019 tandas Rokhmin juga menyangkut soal sustainability atau kelestarian lingkungan dalam pembangunan dan pengembangan sektor akuakultur dimana dalam implementasinya tidak boleh melampaui daya dukung lingkungan.

“Pembangunan Akuakultur (laut atau offshore, Payau/tambak, air tawar seperti waduk maunpun kolam) prinsipnya tidak boleh melampaui daya dukung lingkungan. Setiap kawasan kita sudah punya perhitungan daya dukungnya,” tegasnya.

Sebagai contoh, Rokhmin mengatakan bahwa setiap permukaan danau atau perwadukan sesuai aturan daya dukung lingkungan maksimal untuk keramba jaring apung adalah 10 persen. “Jangan sampai seperti waduk cirata yang sudah 60 persen sehingga selain fungsi irigasinya berkurang juga merugikan untuk dunia perikanan karena setiap tahun terjadi up failing atau pembalikan masa air dimana zat beracun naik ke atas dan membuat ikan banyak yang mati,” tandasnya.

“Untuk itu kita minta pemerintah harus hadir komitmen menjalankan aturan, tapi juga bukan dengan main larang ini larang itu. Harus dengan tawaran solusinya juga untuk masyarakat,” pungkasnya.

About Dhona Indah Kiswari

Check Also

Submission Abstract For ICAI 2019

Dear Colleagues, We are pleased to inform you that the deadline of the abstract submissions …