Download http://bigtheme.net/joomla Free Templates Joomla! 3
Home / Lain-lain / Pengaruh Ketebalan Media Budidaya Cacing Sutra (Tubifex sp.) menggunakan Lumpur Limbah Budidaya Lele

Pengaruh Ketebalan Media Budidaya Cacing Sutra (Tubifex sp.) menggunakan Lumpur Limbah Budidaya Lele

Pengaruh Ketebalan Media Budidaya Cacing Sutra (Tubifex sp.) menggunakan Lumpur Limbah Budidaya Lele

Pembenihan merupakan salah satu segmen usaha budidaya ikan yang berhadapan dengan masalah tingkat kematian larva yang tinggi. Kematian larva salah satunya disebabkan oleh ketersediaan pakan yang tidak sesuai dengan kebutuhan larva, baik dari sisi kuantitas maupun kualitas. Cacing sutera (Tubifex sp.) merupakan salah satu jenis pakan alami ikan budidaya yang potensial. Keberadaan cacing sutera di alam tidaklah tersedia sepanjang tahun, khususnya pada musim penghujan. Cacing sutera yang ditangkap dari alam tidak memiliki jaminan kualitas baik, semakin banyak kandungan bahan tercemar di alam maka akan semakin banyak bahan tercemar tersebut yang terakumulasi di dalam tubuh cacing. Semakin banyak kandungan logam berat pada suatu perairan semakin tinggi pula kandungan logam berat tersebut di dalam tubuh cacing sutera (Santoso & Hernayanti, 2004). Budidaya cacing sutera membutuhkan media dengan kandungan bahan organik tinggi. Limbah budidaya ikan banyak mengandung partikel organik dan bakteri melimpah yang berasal dari sisa-sisa pakan yang terakumulasi di dalam kolam selama pemeliharaan, khususnya dalam sistem budidaya secara intensif (Gunadi, 2012). Limbah yang dihasilkan dari proses budidaya lele memiliki kandungan partikel organik yang melimpah. Kandungan bahan organik yang tinggi ini mungkin dapat dimanfaatkan untuk produksi cacing sutera sebagai pakan alami ikan. Untuk dapat menghasilkan Optimalisasi biomassa cacing sutera dapat dilakukan dengan mengatur media dengan ketebalan yang optimal pula. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh limbah budidaya lele sebagai media budidaya terhadap produksi biomassa cacing sutera, serta mengetahui ketebalan limbah budidaya lele sebagai media yang dapat menghasilkan produksi cacing sutera tertinggi.

Bahan. Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu cacing sutera, limbah padat (lumpur) dan cair (air buangan) budidaya lele, aquadest serta beberapa larutan dan reagen untuk analisis kualitas air.

Metode. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Basah Departemen Perikanan Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada selama 45 hari dimulai pada Februari sampai dengan Maret 2016. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode eksperimen. Rancangan percobaan yang digunakan yaitu Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL) yang terdiri atas empat perlakuan dengan tiga kali ulangan pada setiap perlakuan. Kedalaman air yang digunakan yaitu 6 cm dari atas permukaan media.

Rancangan percobaan yang dilakukan sebagai berikut:

P1 = Ketebalan media 2 cm

P2 = Ketebalan media 4 cm

P3 = Ketebalan media 8 cm

P4 = Ketebalan media 12 cm

Persiapan. Wadah yang digunakan berupa nampan berukuran 40x30x20 cm3  sebanyak 12 buah. Wadah budidaya disusun pada rak yang terbuat dari kayu disusun menjadi tiga tingkat dengan jarak antar wadah yaitu 20 cm. Wadah yang telah disusun dilakukan uji sistem resirkulasi. Lumpur yang digunakan diambil dari kolam budidaya lele dengan masa pemeliharaan 90 hari. Persiapan lumpur dilakukan dengan mengumpulkan dan mengambil semua lumpur kolam pada satu bak yang sama. Lumpur kemudian disaring untuk memisahkan antara lumpur dan partikel lain yang berukuran lebih besar seperti kerikil maupun hewan kelompok gastropoda. Masing- masing wadah diisi media (lumpur) limbah budidaya lele yang telah disiapkan sebelumnya dengan kedalaman berbeda sesuai perlakuan. Media direndam air selama 24 jam dengan debit 300 mL/menit. Wadah budidaya diletakkan di tempat yang tidak terkena sinar matahari secara langsung. Sistem budidaya bersifat semi resirkulasi yaitu air yang digunakan untuk mengaliri media akan digunakan kembali dengan bantuan pompa kapasitas 3000 L (3m, 50 W) dengan asumsi kandungan bahan organik yang terkandung di dalam media tidak hilang terbawa air.

Penebaran bibit. Cacing sutera yang akan digunakan sebagai bibit dilakukan pemuasaan terlebih dahulu sebelum dilakukan penebaran yaitu dengan cara mengalirkan air selama 24 jam tanpa diberikan pakan ataupun media berupa lumpur. Cacing sutera diperoleh dari penjual di Pasar Telo Karangkajen, Kelurahan Brontokusuman, Kecamatan Mergangsan, Kota Yogyakarta yang merupakan hasil tangkapan dari alam.

Perawatan dan pemeliharaan. Perawatan dilakukan dengan cara membersihkan media dari kompetitor yang mengganggu pertumbuhan cacing sutera. Pembersihan media dari lumut dilakukan setiap hari karena lumut akan mengganggu aliran air dan menutup media dari sinar matahari. Pengambilan Chironomus (cacing darah) dan pengawasan sistem resirkulasi dilakukan dan dijaga setiap hari. Pemeliharaan dilakukan dengan cara memberikan limbah cair budidaya sebagai upaya dalam meningkatkan kandungan bahan organik. Limbah cair budidaya ditampung dalam bak fiberglass berukuran 80x80x100 cm3 yang digunakan sebagai suplai air limbah. Penambahan limbah cair budidaya dilakukan setiap dua hari dengan tujuan menggantikan air yang hilang akibat proses penguapan dan secara tidak langsung sebagai pensuplai pakan.

Pengamatan dan Sempling. Pengamatan dilakukan setiap hari dengan pertumbuhan cacing dengan meng ngontrol pertumbuhan hama cacing sutra seperti cacing darah yang dapat menghabiskan bahan organik yang tersedia dalam media. Pengolahan air untuk memastikan jalannya sistem semi selirkulasi. Sampling dilakukan selama 15 hari dengan memngambil sampel 3 sampel pada setiap wadah yaitu inlet, tengah dan outlet. Sampling dilakukan dengan memasukkan pipa berdiameter 2,3 cm ke dalam media sampai dasar, lalu pipa diangkat dengan menutup lubang bagian atas. Media yang diperoleh terlebih dahulu disaring sambil dibilas dengan air dan cacing dipisahkan dari substrat. Cara ini dilakukan berulang-ulang hingga cacing yang diperoleh bersih dan kemudian dilakukan penimbangan (Sinaga, 2012).

Pengukuran parameter biologi, fisika dan kimia. Parameter biologi yang diukur yaitu peningkatan biomassa dan biomassa mutlak cacing sutera. Biomassa mutlak cacing sutera dihitung berdasarkan berat cacing sutera pada saat panen dikurangi dengan berat biomassa cacing sutera pada saat tebar. Perhitungan pertumbuhan mutlak berbasis berat cacing sutera menurut Effendie (2002):

G = Wt-Wo

Keterangan : G = Pertumbuhan mutlak cacing sutera (g)

Wt = Berat saat panen cacing sutera (g)

Wo = Berat saat tebar cacing sutera (g)

 

Pemanenan. Cacing sutera dipanen setelah 45 hari. Cara pemanenan cacing sutera dilakukan dengan menuangkan media ke dalam seser dengan meshsize 0,5 mm dan dilakukan pemisahan dengan mengalirkan air. Cacing sutera yang diperoleh dan masih bercampur dengan media kemudian dimasukkan ke dalam ember yang diisi air setinggi 1 cm agar cacing sutera naik ke permukaan media budidaya.

Analisis data. Rancangan penelitian menggunakan Model Rancangan Acak Lengkap menurut Steel & Torrie (1991) dengan persamaan sebagai berikut :

Yij =µ+τi +εij

Keterangan: Yij = Nilai pengamatan; I = 1,2,3..n

µ = Nilai tengah umum

τi = Pengaruh perlakuan ke-I = 1,2,3..n

ε = Pengaruh kesalahan percobaan yang berasal dari perlakuan ke-i yang mendapat ulangan ke-j

Pembahasan. Cacing sutera yang dipelihara selama 45 hari mengalami peningkatan biomassa dan populasi. Hasil sampling cacing sutera menunjukkan pola peningkatan yang sama pada semua perlakuan, yaitu mengalami puncak pada hari ke-45 kecuali pada ketebalan media 2 cm (P1). Pertumbuhan dan kelahiran individu baru pada saat puncak populasi mengakibatkan peningkatan jumlah individu dan bobot biomassa. Meningkatnya biomassa cacing sutera sampai dengan panen menunjukkan bahwa cacing sutera mampu tumbuh dengan memanfaatkan media budidaya yang kaya bahan organik (Adlan, 2014). Penurunan biomassa dan populasi disebabkan karena jumlah nutrien yang dibutuhkan oleh cacing sutera untuk tumbuh dan berkembang tidak mencukupi sehingga mengakibatkan persaingan makanan dan diikuti kematian antar individu (Bintaryanto & Taufikurohman, 2013).

 

Daftar Pustaka

Adlan, M.A. 2014. Pertumbuhan biomassa cacing sutera (Tubifex sp.) pada media kombinasi pupuk kotoran ayam dan ampas tahu. Departemen Perikanan Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.

Bachtiar, Y. 2008. Menghasilkan Pakan Untuk Ikan Hias. Agromedia Pustaka. Jakarta.

Bintaryanto, B.W & Taufikurohmah. 2013. Pemanfaatan campuran limbah padat (Sludge) pabrik kertas dan kompos sebagai media budidaya cacing sutera (Tubifex sp.). UNESA J. of Chemistry 2.

Sumber: Dindin Suryadin, Senny Helmiati, Rustadi Rustadi Department of Fisheries, Faculty of Agriculture, Universitas Gadjah Mada

About

Check Also

MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN 2019-2024

MAI MENGUCAPKAN SELAMAT ATAS TERPILIHNYA BAPAK EDHY PRABOWO MENTERI KELAUTAN & PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA 2019-2024