Download http://bigtheme.net/joomla Free Templates Joomla! 3
Home / Lain-lain / Potensi ikan nila di Pati jadikan contoh untuk budidaya Nila yang berkelanjutan

Potensi ikan nila di Pati jadikan contoh untuk budidaya Nila yang berkelanjutan

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan telah menobatkan Pati sebagai satu-satunya kawasan budidaya nila salin terbesar di Indonesia pada tahun 2018 lalu.

Komoditas nila salin merupakan jenis nila unggul yang sebelumnya telah melalui proses adaptasi dari semula salinitas 0 ppt (tawar) ke salinitas mencapai 20 ppt (payau).

Ikan nila salin pertumbuhannya lebih cepat (3 bulan sudah panen). Harganya juga lebih baik dan cita rasa dagingnya lebih disukai konsumen. Secara ekonomi ikan nila salin sangat menjanjikan.

Dijelaskan dia, pemilihan Kabupaten Pati sebagai kawasan nila salin berkelanjutan nasional, dilakukan karena Pati merupakan sentral terbesar budidaya nila salin dan baru yang pertama ada di Indonesia.

Slamet menambahkan, sebagai produsen ikan nila dunia, Indonesia harus terus berbenah. Dari sisi daya saing, komoditas ikan nila memang diakui sudah memiliki daya saing lebih tinggi dibandingkan dengan udang atau bahkan rumput laut. Tetapi, agar potensi besar itu bisa dimanfaatkan dengan baik, butuh perencanaan sangat matang dalam pelaksanan produksinya.

Untuk itu, Slamet menilai, pencanangan klasterisasi kawasan ikan nila dengan prinsip berkelanjutan di Pati, menjadi langkah yang sangat strategis. Mengingat, dari sisi teknis dan ekonomis, nila salin memang diketahui sudah memiliki sejumlah keunggulan.

“Sebagai gambaran, BPS (Badan Pusat Statistik) mencatat tahun 2017 ekspor ikan nila Indonesia mencapai 9.179 ton dengan nilai mencapai 57,43 juta dolar Amerika Serikat,” sebutnya.

Pati, oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) didorong menjadi kabupaten yang menerapkan prinsip berkelanjutan pada sektor perikanan budidaya. untuk mempercepat proses itu, kawasan seluas 600 hektare dijadikan percontohan di d Direktur Jenderal Perikanan Budidaya KKP Slamet Soebjakto mengatakan, kawasan yang dijadikan percontohan berada di Kecamatan Tayu dan total keseluruhan luasnya mencapai 835 ha. Di atas lahan yang dijadikan percontohan itu, saat ini pembudidaya lokal biasa melaksanakan budidaya ikan nila salin dan sudah berlangsung sejak 2014.

Slamet menjelaskan, dengan penetapan kawasan tersebut menjadi percontohan budidaya berkelanjutan, diharapkan ke depannya akan terwujud pola pengelolaan sistem produksi dan usaha yang terintegrasi dari hulu ke hilir untuk ikan nila salin. Dengan cara seperti itu, prinsip berkelanjutan akan menjadi bagian tak terpisahkan dari cara kerja budidaya di kawasan tersebut.

Untuk penataan tambak, Slamet menyebutkan, pihaknya telah memberikan dukungan alat berat eskavator, dan juga rencana program irigasi tambak partisipatif (PITAP) berbasis padat karya di kawasan tersebut. Dengan cara seperti itu, masalah pendangkalan saluran, penataan tata letak tambak, dan penataan irigasi, diharapkan bisa teratasi.

 

 

Sumber : Berbagai Sumber

 

About Dhona Indah Kiswari

Check Also

BUDIDAYA RAJUNGAN

Komoditas perikanan  terbesar ke tiga yang memberikan nilai ekspor tertinggi bagi Indonesia adalah rajungan. Rajungan …