Download http://bigtheme.net/joomla Free Templates Joomla! 3
Home / Lain-lain / Prof Rokhmin Dahuri berbicara terkait KJA Danau Toba

Prof Rokhmin Dahuri berbicara terkait KJA Danau Toba

Prof Rokhmin Dahuri Selaku Ketua Umum Masyarakat Akuakultur Indonesia membagikan tulisannya dengan judul Mutualisme KJA dan Wisata Toba di majalah TROBOSAqua Edisi 80. Beliau menjelaskan berbagai hal dalam berbagai aspek guna menanggapi Kebijakan dari pemerintah pusat maupun pemerintah daerah terhadap keberlangsungan aktivitas di danau  Toba, terutama KJA. Surat Keputusan Gubernur Sumut Nomor 188.44/213/KPTS/2017 yang akan membatasi produksi ikan di KJA hanya 10rbu ton/tahun dan akan dikurangi secara bertahap dan mulai diberlakukan pada tahun 2022.

Menurut beliau, Keputusan tersebut kurang tepat dan tidak menyelesaikan masalah. Sejatinya pariwisata dan aktivitas budidaya ikan dalam KJA yang ramah lingkungan bisa berdampingan dan berkembang bersama (simbiosis mutualisme), asalkan ada pengaturan. karena di negara-negara lain aktivitas KJA bisa dijadikan obyek (daya tarik ) wisata.

Selain mengulas tentang fakta dan dampak dari keputusan yang dicanangkan oleh pemerintahan setempat tersebut, Prof Rokhmin juga memberikan beberapa rekomendasi untuk pengelolaan KJA Danau Toba. Berikut diantaranya.

Rekomendasi MAI Pengelolaan KJA Danau Toba

-) Pembatasan produksi ikan nila dari budidaya dalam KJA maksimum 55000 ton/tahun (sesuai perhitungan daya dukung LIPI dan KKP)

-) Semua aktivitas budidaya KJA harus ramah lingkungan dan memiliki sertifikat Cara Budidaya ikan yang baik dan Benar (CBIB) dari KKP maupun Lembaga Internasional.

-) Zonasi lokasi KJA sesuai rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) perairan Danau Toba yang disepakati oleh semua stakeholder utama.

-) Bentuk,warna, desain, dan layout KJA harus dibuat bersih, indah, dan menarik sebagai obyek wisata.

-) Pengurangan beban pencemaran dari aktivitas sekitar pembangunan lain dan manusia di sekitar Danau Toba, dan di sepanjang hulu 23 DAS yang bermuara di Danau Toba. Dengan Aplikasi teknologi 3R (Reduce, Reuse, dan Recycle), reboisasi dan peghijauan, sempadan sungai dan Danau Toba, DIKLATLUH, dan law enforcement.

-) Restocking dan stock enhancement jenis-jenis ikan herbivora (plankton, feeder) D. Toba.

-) Alokasi kuota produksi untuk KJA masyarakat sebesar 50%, PT Aquafarm 25% dan PT Suri Tani Pemuka 25%

-) PT Aquafarm dan PT STP wajib bekerjasama dengan KJA masyarakat secara saling menghormati dan menguntungkan (mutual and win-win cooperation). Kedua perusahaan ini harus memberikan bimbingan teknis dan capacity building supaya  KJA masyarakat juga produktif, efisien, ramah lingkungan, dan diterima pasar ekspor (bersertifikat). Tentu pemerintah harus sebagai fasilitator. Kedua perusahaan menyediakan sarana produksi berkualitas dengan harga sesuai nilai keekonomian, dan menjamin pasar ikan hasil budidaya KJA masyarakat sesuai nilai keekonomian.

-) Pengggunaan pakan terapung dengan kandungan fosfor minimal

-) Modifikasi KJA ramah lingkungan yang mampu menampung sisa pakan agar tidak mengendap dan menyebabkan pencemaran perairan.

-) Aerasi di kawasan KJA untuk mengantipasi kensentrasi Dissolve Oxygen yang rendah.

-) Penerapan sistem peringatan dini terhadap kejadian upwelling untuk mencegah terjadinya kerugian akibat kematian massal ikan.

-) Pengendalian gulma enceng gondok baik secara fisik, biologi, maupun  kimiawi.

 

 

Sumber : TrobosAqua.com

 

About Dhona Indah Kiswari

Check Also

BUDIDAYA RAJUNGAN

Komoditas perikanan  terbesar ke tiga yang memberikan nilai ekspor tertinggi bagi Indonesia adalah rajungan. Rajungan …